• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
26 Oktober 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home TRAVEL & LIFESTYLE

Camino de Flores Etape Tengah Hari Kedua, Perkuat Wisata Religi dan Solidaritas untuk Pemulihan Flores

by Riski Yanti
26 Oktober 2026
Camino de Flores Etape Tengah Hari Kedua, Perkuat Wisata Religi dan Solidaritas untuk Pemulihan Flores
15
SHARES
92
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

Ngada, KabarSDGs — Hari kedua Rangkaian Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores – A Spiritual Journey of Reflection and Recovery, Sabtu (24/10), sebanyak 70 peserta Camino kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 25,5 kilometer, melewati sejumlah titik yang merepresentasikan kekayaan spiritual, budaya, dan kehidupan masyarakat Flores.

Perjalanan hari kedua dimulai dari Gereja Mater Boni Consili (MBC) Bajawa, dilanjutkan menuju Gereja Paroki Maria Ratu Semesta Alam, Langa, Kampung Adat Bena, dan Paroki Rakateda I, sebelum berakhir di kawasan Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko.

BACA JUGA

Camino de Flores Etape Tengah Resmi Dimulai

Camino de Flores Etape Tengah Resmi Dimulai

26 Oktober 2026
Kemenpar Dorong Ekonomi Sade Kembali Bergerak, Salurkan Bantuan Pemulihan Usaha

Kemenpar Dorong Ekonomi Sade Kembali Bergerak, Salurkan Bantuan Pemulihan Usaha

1 Oktober 2026
Wonderful Indonesia Gastronomy 2026 Resmi Dibuka di Solo

Wonderful Indonesia Gastronomy 2026 Resmi Dibuka di Solo

29 September 2026

Rangkaian perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Flores melalui pola perjalanan wisata religi yang menghubungkan situs keagamaan, warisan budaya, alam, serta interaksi dengan masyarakat setempat.

Di Kampung Adat Bena, peserta berkesempatan mengenal kekayaan tradisi dan warisan megalitik masyarakat Ngada.

Persinggahan ini memperlihatkan bagaimana nilai-nilai adat, penghormatan kepada leluhur, dan kehidupan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas budaya Flores.

Setelah menyelesaikan perjalanan, peserta menuju Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko dan menginap di Kemah Tabor Mataloko.

Camino hari kedua ditutup dengan ramah tamah dan makan malam bersama para seminaris, imam, pater, serta para guru di lingkungan seminari.

Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan dan persaudaraan antara peserta Camino de Flores dengan komunitas pendidikan calon imam di Flores.

Dalam kesempatan tersebut, mewakili para peserta Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, inisiator Camino de Flores, menyerahkan rosario kepada para seminaris.

Ia juga menyampaikan komitmen untuk turut membantu perbaikan bangunan seminari yang terdampak gempa bumi Flores bermagnitudo 7,7 beberapa waktu lalu.

Dukungan ini menjadi wujud kepedulian yang menyertai perjalanan Camino de Flores, sejalan dengan semangat refleksi, berbagi, dan pemulihan.

Mari Elka Pangestu menyampaikan bahwa perjalanan Camino de Flores menghadirkan pengalaman yang berkesan melalui perjumpaan langsung dengan masyarakat, menyapa anak-anak, interaksi dengan warga di sepanjang jalur, serta sambutan komunitas lokal menjadi bagian penting yang memperkaya pengalaman para peserta.

”Sepanjang hari kemarin dan hari ini, kami sangat tersentuh dengan semuanya. Sepanjang perjalanan kami banyak ngobrol dengan masyarakat, tidak ada yang tidak menyapa, dan kami merasa disambut dengan sukacita. Hanya di sini, seperti diterima di rumah sendiri” ungkap Mari.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, menyampaikan bahwa Camino de Flores memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu alternatif aktivitas wisata di Pulau Flores yang memadukan perjalanan spiritual, keindahan alam, kekayaan budaya, dan interaksi langsung dengan masyarakat lokal.

“Sebagai peserta, saya merasakan bahwa Camino de Flores menawarkan pengalaman yang berbeda. Perjalanan ini bukan hanya tentang berjalan kaki, tetapi juga tentang mengenal Flores lebih dekat, menyusuri tempat-tempat yang memiliki nilai spiritual dan budaya, serta berinteraksi dengan masyarakat di sepanjang jalur perjalanan. Pengalaman seperti ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari perjalanan yang lebih mendalam dan bermakna,” ungkapnya.

Kementerian Pariwisata siap mendukung promosi Camino de Flores agar semakin dikenal sebagai salah satu pilihan aktivitas wisata di Flores.

Kemenpar juga melihat peluang untuk memperkenalkan perjalanan ini melalui jejaring promosi pariwisata, media, dan pelaku industri perjalanan, sehingga ke depan dapat dikembangkan menjadi produk wisata yang terencana dan siap ditawarkan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Harapannya, kehadiran Camino de Flores dapat memperluas pilihan wisata di Flores sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di wilayah yang dilalui.

Lebih lanjut, dalam sambutannya, Praeses Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko, RD Stef Wolo, menyampaikan apresiasi atas kunjungan rombongan Camino de Flores.

Ia menyambut para peserta sebagai bagian dari keluarga besar seminari dan memaknai perjalanan tersebut sebagai kesempatan membangun relasi sosial, persaudaraan, serta kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat Flores, termasuk pemulihan fasilitas pendidikan yang terdampak bencana.

Ia juga mengapresiasi pilihan Mari Elka Pangestu merayakan ulang tahunnya yang ke-70 melalui perjalanan sejauh 70 kilometer bersama masyarakat Flores.

Menurutnya, perjalanan tersebut bukan sekadar aktivitas berjalan kaki, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengungkapkan rasa syukur, mempererat persahabatan, dan menghadirkan kepedulian nyata bagi sesama.

Sementara itu, Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menilai Camino de Flores sebagai salah satu peluang untuk memperkuat pengembangan pola perjalanan wisata religi Katolik di Pulau Flores.

Dengan menghubungkan gereja, kampung adat, pusat pendidikan keagamaan, serta potensi alam dan budaya, perjalanan ini diharapkan dapat memperkenalkan pengalaman wisata yang lebih mendalam sekaligus memperluas persebaran kunjungan wisatawan ke berbagai wilayah di Flores.

”Camino de Flores ini menjadi salah satu peluang pengembangan wisata religi Katolik di Pulau Flores, bagaimana dari satu titik destinasi wisata religi, destinasi wisata budaya, dan alam serta interaksi dengan masyarakat saling terhubung dan dikemas dalam satu kegiatan. Pola perjalanan seperti ini diharapkan juga dapat menambah lama tinggal wisatawan serta persebaran wisatawan sehingga tidak terkonsentrasi pada satu lokasi saja” ungkap Andhy.

Pengembangan pola perjalanan tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam penyediaan layanan wisata, kuliner, produk budaya, dan berbagai kebutuhan perjalanan.

Kolaborasi antara pemerintah, gereja, komunitas, dan pelaku pariwisata menjadi penting untuk memastikan pengembangan yang berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ramah tamah malam kedua Camino (24/1/2026) ini turut dihadiri Bupati Nagekeo, Wakil Bupati Ngada, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada, serta Romo Vikaris Episkopal (Vikep) Ngada.

Kehadiran para pemangku kepentingan ini mencerminkan dukungan dan keterlibatan berbagai pihak dalam pengembangan potensi wisata serta penguatan solidaritas bagi pemulihan Flores.

Share6SendTweet4
Previous Post

Pembangunan Tol Semarang – Demak, Ditargetkan Selesai Tahun 2027

Next Post

Camino de Flores Etape Tengah Resmi Dimulai

Next Post
Camino de Flores Etape Tengah Resmi Dimulai

Camino de Flores Etape Tengah Resmi Dimulai

KemenEkraf & UN DESA Petakan Tantangan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Inklusif

KemenEkraf & UN DESA Petakan Tantangan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Inklusif

Discussion about this post

NEWS UPDATE

Kementerian PU Perkuat Tanggul Sungai Pasca Banjir di Tapanuli Tengah

Kementerian PU Perkuat Tanggul Sungai Pasca Banjir di Tapanuli Tengah

26 Oktober 2026
KemenEkraf & UN DESA Petakan Tantangan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Inklusif

KemenEkraf & UN DESA Petakan Tantangan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Inklusif

26 Oktober 2026
Camino de Flores Etape Tengah Resmi Dimulai

Camino de Flores Etape Tengah Resmi Dimulai

26 Oktober 2026
Camino de Flores Etape Tengah Hari Kedua, Perkuat Wisata Religi dan Solidaritas untuk Pemulihan Flores

Camino de Flores Etape Tengah Hari Kedua, Perkuat Wisata Religi dan Solidaritas untuk Pemulihan Flores

26 Oktober 2026
Pembangunan Tol Semarang – Demak, Ditargetkan Selesai Tahun 2027

Pembangunan Tol Semarang – Demak, Ditargetkan Selesai Tahun 2027

25 Oktober 2026

POPULAR

  • PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    3962 shares
    Share 1585 Tweet 991
  • BPKH Salurkan Bingkisan Lebaran Untuk 100 Anak Yatim Di Malang

    3926 shares
    Share 1570 Tweet 982
  • Minamas Plantation Berbagi dengan Anak Yatim di Pekanbaru

    3987 shares
    Share 1595 Tweet 997
  • Bank Muamalat Gelar Muamalah Executive Class Bahas Perjalanan Finansial dan Spiritual Menuju Baitullah

    3376 shares
    Share 1350 Tweet 844
  • Cargill Raih Gold Award ISDA Berkat Program Rumah Kompos 5R di Gresik

    4024 shares
    Share 1610 Tweet 1006

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.