Kuantan Singingi, Kabar SDGs – Pelaksanaan Batik Karnival dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-27 Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, menuai sorotan di tengah kondisi pencemaran udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketika kabut asap masih mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas pendidikan, pemerintah daerah menggelar peragaan busana di panggung terbuka yang turut disaksikan warga, termasuk anak-anak.
Berdasarkan pengamatan di lokasi, sejumlah pejabat daerah bersama pasangan masing-masing tampil di atas panggung dengan mengenakan batik bermotif beragam. Mereka berjalan menyusuri catwalk dalam rangkaian acara perayaan kabupaten tersebut. Di sekitar panggung, warga dan anak-anak yang sebagian mengenakan masker kain terlihat berkumpul untuk menyaksikan kegiatan di tengah kondisi langit yang tertutup kabut asap.
Situasi tersebut menjadi perhatian karena kualitas udara di sejumlah wilayah Kuansing dilaporkan berada pada tingkat yang berisiko bagi kesehatan. Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuansing, kualitas udara di Teluk Kuantan berada pada kisaran 163 hingga 188, yang termasuk kategori Tidak Sehat.
Sementara itu, pemantauan di sejumlah lokasi lain, seperti Petai di Kecamatan Singingi Hilir dan Muara Lembu di Kecamatan Singingi, sempat menunjukkan indeks di atas 200 pada pagi hari. Angka tersebut masuk kategori Sangat Tidak Sehat, sehingga paparan asap menjadi perhatian serius bagi masyarakat yang beraktivitas di kawasan tersebut.
Dampak pencemaran udara juga dirasakan oleh sektor pendidikan. Pemerintah Kabupaten Kuansing memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi sekolah-sekolah serta mengimbau masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan, untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan demi meminimalkan paparan partikel berbahaya dari asap karhutla.
Namun, upaya pembatasan aktivitas tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko gangguan kesehatan. Dinas Kesehatan Kabupaten Kuansing mencatat akumulasi sebanyak 1.789 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak pertengahan Agustus hingga awal Oktober. Anak-anak, balita, dan lanjut usia termasuk kelompok yang mendominasi kasus gangguan pernapasan tersebut.
Seorang warga bernama Rini mengungkapkan kebingungannya melihat kegiatan di ruang terbuka tetap dipadati pengunjung ketika anak-anak diminta mengurangi aktivitas di luar rumah akibat kondisi udara yang memburuk.
“Anak-anak sudah tidak bersekolah secara tatap muka sejak beberapa waktu terakhir karena baunya menyengat dan membahayakan paru-paru. Kami diminta menjaga anak di dalam rumah, tetapi ketika melihat acara ramai di luar seperti ini, rasanya ada kebingungan atas arah prioritas penanganan kondisi darurat ini,” ujar Rini seorang warga yang ditemui di sekitar lokasi acara belum lama ini.
Menanggapi sorotan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kuansing, Drs. Muradi, sebelumnya membantah anggapan bahwa pemerintah daerah mengabaikan keselamatan anak-anak. Ia menegaskan bahwa panitia dan pemerintah daerah tidak melibatkan pelajar dalam peragaan busana maupun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan di lapangan.
Meski demikian, keberadaan warga dan anak-anak di sekitar panggung terbuka tetap menjadi perhatian, mengingat kondisi udara di wilayah tersebut masih tercemar asap. Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi penerapan imbauan kesehatan, terutama ketika masyarakat diminta membatasi aktivitas luar ruangan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.
Sejumlah pengamat kebijakan publik dan sosiolog menyoroti penyelenggaraan kegiatan tersebut dari sisi kepekaan pemerintah terhadap situasi darurat. Ketika masyarakat menghadapi ancaman kesehatan akibat karhutla, penanganan pencemaran udara, perlindungan kelompok rentan, serta pemenuhan kebutuhan kesehatan dinilai perlu mendapatkan perhatian utama.
Penanganan krisis asap juga membutuhkan langkah konkret, mulai dari upaya pemadaman titik api hingga penyediaan masker yang sesuai standar medis bagi masyarakat terdampak. Langkah-langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko paparan polutan, khususnya bagi anak-anak, balita, lansia, dan warga yang memiliki kerentanan terhadap penyakit pernapasan.
Selain persoalan prioritas penanganan bencana, penyelenggaraan acara di ruang terbuka juga memunculkan persoalan mengenai konsistensi kebijakan. Imbauan agar masyarakat mengurangi kegiatan di luar ruangan perlu disertai penerapan langkah perlindungan yang sejalan dalam setiap aktivitas publik, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.
Ketidaksesuaian antara imbauan keselamatan dan kegiatan yang mengundang kerumunan berpotensi menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Karena itu, transparansi informasi mengenai kondisi udara, konsistensi kebijakan, serta komunikasi yang jelas dari pemerintah menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan publik selama situasi darurat berlangsung.
Peristiwa di Kuantan Singingi tersebut memperlihatkan pentingnya menempatkan keselamatan masyarakat sebagai pertimbangan utama dalam penyelenggaraan kegiatan publik. Di tengah ancaman pencemaran udara, upaya perlindungan kesehatan, penanganan karhutla, dan pemulihan aktivitas pendidikan perlu berjalan beriringan agar kebutuhan masyarakat terdampak tetap menjadi prioritas.












Discussion about this post