Kutai Timur, Kabar SDGs – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terus mematangkan Galeri Arkeologi Sangatta atau Rumah Cagar Budaya Kutai Timur sebagai pusat edukasi, penelitian, dan informasi sejarah. Galeri ini menyimpan beragam artefak prasejarah dari kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat yang diperkirakan berusia antara 3.000 hingga 4.000 tahun.
Kesiapan galeri tersebut ditinjau langsung oleh Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman pada Jumat (3/7/2026). Peninjauan dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat peran galeri dalam memperkenalkan kekayaan sejarah Kutai Timur kepada masyarakat, peneliti, maupun wisatawan dari dalam dan luar negeri.
Pengelola Galeri Arkeologi Sangatta, Makmur, menjelaskan bahwa koleksi yang tersimpan di lokasi tersebut memiliki nilai penting dalam menggambarkan perkembangan peradaban kuno di Kalimantan.
Ia menyebutkan, galeri menampilkan berbagai artefak berupa peralatan dan benda-benda peninggalan kehidupan masyarakat prasejarah yang diperkirakan berusia 3.000 hingga 4.000 tahun. Selain itu, pengunjung juga dapat memperoleh informasi mengenai situs-situs gua di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat yang diperkirakan berusia sekitar 30.000 hingga 45.000 tahun melalui dokumentasi, foto, dan materi edukasi yang tersedia.
Makmur mengatakan pihaknya juga tengah mempersiapkan penambahan koleksi agar informasi yang disajikan kepada masyarakat menjadi lebih lengkap.
“Kami juga berencana menambah sejumlah koleksi baru yang saat ini belum dipamerkan, seperti artefak asli dari beberapa gua terpencil serta replika motif-motif gerabah purba agar informasi yang disajikan kepada publik semakin kaya,” ujar Makmur.
Galeri Arkeologi Sangatta yang diresmikan pada 2008 kini sedang dibenahi secara menyeluruh untuk mendukung proses penilaian Tim Asesor Geopark Nasional sekaligus meningkatkan fungsi galeri sebagai ruang edukasi publik.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menekankan pentingnya penyajian informasi yang lengkap dan mudah dipahami agar setiap koleksi memiliki nilai edukatif yang lebih kuat bagi pengunjung.
“Saya meminta seluruh catatan dan kekurangan, terutama keterangan pada foto dan informasi setiap geosite, segera dibenahi. Galeri ini harus menjadi pusat informasi yang lengkap dan mudah dipahami,” tegas Bupati Ardiansyah.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menargetkan Galeri Arkeologi Sangatta tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga berkembang sebagai pusat riset dan pembelajaran. Galeri ini diharapkan menjadi titik awal bagi para peneliti sebelum melakukan kajian di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi pelajar dan mahasiswa untuk mempelajari sejarah serta arkeologi secara langsung.
Dengan koleksi artefak yang mencerminkan perjalanan peradaban ribuan tahun, Galeri Arkeologi Sangatta diproyeksikan menjadi salah satu pusat informasi prasejarah yang penting dalam mendukung pelestarian warisan budaya di Indonesia.












Discussion about this post