Surabaya, Kabar SDGs – PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan investasi di kawasan industri melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) dengan PT Freyabadi Indotama dan PT Filtrona Manufacturing Indonesia dalam East Java Investment Forum (EJIF) 2026.
Penandatanganan LoI berlangsung di Grand City Convex Surabaya dalam rangkaian EJIF 2026 yang digelar selama dua hari pada 1-2 Oktober 2026. Kesepakatan tersebut menjadi tahap awal bagi SIER dan kedua perusahaan untuk menjajaki peluang kerja sama serta pengembangan investasi lebih lanjut.
Dari pihak SIER, dokumen LoI ditandatangani Plt Kepala Divisi Pemasaran Dedi Apriyanto. PT Filtrona Manufacturing Indonesia diwakili Site General Manager Pupung Wahyu Purnaman, sedangkan PT Freyabadi Indotama diwakili Manufacturing Manager Yaroh.
PT Freyabadi Indotama merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi cokelat, sementara PT Filtrona Manufacturing Indonesia menjalankan usaha di sektor filter rokok.
Pada seremoni pembukaan EJIF 2026, Jumat (2/10/2026), penandatanganan tersebut ditandai dengan sesi foto bersama yang menampilkan dokumen LoI antara SIER dengan kedua perusahaan.
Foto bersama diikuti Direktur Utama PT SIER Alif Abadi, perwakilan PT Filtrona Manufacturing Indonesia dan PT Freyabadi Indotama, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Sekdaprov Jatim Adhy Karyono, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Ibrahim, serta Plt Kepala OJK Jawa Timur Horas V.M. Tarihoran.
Hadir pula Direktur Keuangan, Administrasi dan Manajemen Risiko PT SIER Rizka Syafittri Siregar, Direktur Kelembagaan PT SIER Ahmad Fahrudin, serta Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT SIER Yogi Widi Kurniawan.
Direktur Utama PT SIER Alif Abadi menilai penandatanganan LoI tersebut menunjukkan adanya kepercayaan investor terhadap kawasan industri yang dikelola SIER. Menurutnya, kepercayaan tersebut menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan perusahaan sekaligus memperkuat dukungan terhadap kebutuhan dunia usaha.
“Kepercayaan investor menjadi modal penting bagi SIER untuk terus berkembang. Kami memiliki kawasan industri dengan fasilitas yang lengkap dan terus kami tingkatkan, termasuk dukungan pergudangan dan BPSP yang dapat menunjang kebutuhan operasional dan pertumbuhan bisnis para investor,” ujar Alif.
Ia mengatakan SIER akan terus mengembangkan kawasan industri agar mampu menyediakan lingkungan usaha yang aman, nyaman, kompetitif, dan berkelanjutan bagi investor.
“Bagi kami, setiap investasi bukan sekadar penambahan kegiatan usaha, tetapi juga bagian dari upaya membangun ekosistem industri yang memberikan manfaat jangka panjang bagi Jawa Timur,” katanya.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak berharap LoI yang telah ditandatangani dapat dilanjutkan menjadi investasi nyata yang berkontribusi terhadap penguatan struktur ekonomi Jawa Timur. Ia menilai keberlanjutan investasi membutuhkan dukungan ekosistem usaha yang mampu memberikan ruang bagi industri untuk tumbuh dan menciptakan nilai tambah.
Emil mengatakan Jawa Timur tidak hanya diarahkan menjadi lokasi penanaman modal, tetapi juga sebagai wilayah dengan ekosistem yang memungkinkan investasi berkembang secara berkelanjutan. Menurutnya, Jawa Timur merupakan salah satu penyumbang utama perekonomian nasional dengan aktivitas ekonomi regional yang relatif stabil.
“Hari ini kita fokuskan pada strategic policy-nya supaya terus memastikan Jawa Timur punya ekosistem yang kondusif. Jatim itu regional economy, industri yang paling menopang. Maka yang harus dijadikan fokus itu keunggulan dalam ekosistem perekonomian, terutama industri manufaktur yang ada di Jawa Timur,” jelasnya.
Ia menjelaskan, posisi Jawa Timur sebagai salah satu kekuatan ekonomi regional ditopang oleh sektor industri, terutama manufaktur. Oleh sebab itu, penguatan sektor manufaktur perlu berjalan beriringan dengan pembangunan ekosistem ekonomi yang mendukung aktivitas industri.
Menurut Emil, ekosistem tersebut mencakup perdagangan, kualitas sumber daya manusia, infrastruktur, serta konektivitas antarwilayah.
“Ekosistem perdagangan dan manufaktur itu beririsan. Kita membutuhkan SDM yang terdidik, masyarakat dan kondisi ekonomi yang memadai,” tuturnya.
Emil menambahkan, peluang investasi di Jawa Timur tidak hanya terpusat pada satu kawasan karena potensi ekonomi tersebar di berbagai wilayah. Keberadaan bandara, pelabuhan, dan jaringan infrastruktur konektivitas lainnya turut memperkuat akses menuju berbagai pusat kegiatan ekonomi.
Dari sisi kawasan industri, Jawa Timur juga memiliki Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kawasan industri, kawasan industri halal, serta rencana pengembangan kawasan industri baru. Kondisi tersebut dinilai memberikan alternatif lokasi bagi investor sesuai kebutuhan masing-masing.
“Potensi Jawa Timur tersebar di seluruh penjuru. Tidak semuanya crowded. Kesempatannya ada, dan ini menciptakan peluang investasi,” ujarnya.
Karena itu, Emil menilai investasi perlu dilihat tidak hanya berdasarkan nilai modal yang masuk, tetapi juga berdasarkan posisi dan kontribusinya terhadap penguatan rantai nilai ekonomi di Jawa Timur.
Pemerintah, lanjutnya, memiliki peran untuk membangun ekosistem yang mampu memperkuat daya saing daerah sehingga peluang investasi dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.
“Strategic direction kita adalah menawarkan peluang investasi bagi calon investor. Kita harus betul melihat di mana posisi investasi ini bagi Jawa Timur,” tandasnya.










Discussion about this post