Surabaya, Kabar SDGs – Elektrifikasi transportasi di Kota Surabaya mulai diarahkan untuk mencakup lebih banyak moda angkutan umum. Selain bus berukuran besar, Organisasi Angkutan Darat (Organda) Surabaya tengah menyiapkan skema agar angkutan kota atau mikrolet yang masih beroperasi dapat beralih dari kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) ke kendaraan listrik.
Gagasan tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Menyusun Peta Jalan Elektrifikasi Transportasi Surabaya: Integrasi Bus dan Angkot Listrik Menuju Zero Emission, Sabtu (29/8/2026).
Ketua DPC Organda Kota Surabaya Sunhaji Ilahoh mengatakan perubahan menuju kendaraan listrik semakin diperlukan. Menurutnya, selain berkaitan dengan ketidakpastian energi global, tingginya emisi dari kendaraan juga menjadi alasan perlunya pembenahan sistem transportasi umum.
“Tujuannya bagaimana ada perubahan angkutan yang berbasis BBM ke angkutan yang berbasis elektrik,” kata Sunhaji.
Organda, lanjut Sunhaji, menginginkan proses elektrifikasi tidak hanya berfokus pada pengadaan bus listrik oleh pemerintah. Angkutan kota yang selama ini menjadi bagian dari sistem transportasi masyarakat Surabaya juga dinilai perlu dilibatkan dalam proses transformasi tersebut.
Jumlah mikrolet yang masih beroperasi di Surabaya saat ini juga terus berkurang. Dari yang sebelumnya mencapai sekitar 12 ribu unit, kini hanya sebagian kecil yang masih aktif dan memiliki kelengkapan administrasi.
Penurunan jumlah armada tersebut dinilai dapat menjadi kesempatan untuk melakukan peremajaan sekaligus memperkenalkan kendaraan listrik kepada para pemilik angkutan kota.
Organda tengah menjajaki skema pembiayaan yang diharapkan dapat meringankan beban pemilik mikrolet ketika melakukan penggantian kendaraan. Dengan skema tersebut, pemilik angkutan diharapkan dapat memiliki kendaraan listrik dan melakukan pembayaran secara bertahap.
“Bagaimana nanti ada angkutan len menggunakan listrik dan tidak buy the service. Kami akan berupaya sendiri bagaimana mereka bisa ngangsur sendiri dan kemudian uang mukanya nanti kita free,” ujarnya.
Untuk membahas kemungkinan penerapan skema tersebut, Organda berencana mengundang pelaku usaha dari China. Pertemuan lanjutan ditargetkan berlangsung sekitar satu bulan setelah FGD.
Menurut Sunhaji, transformasi transportasi tidak boleh hanya dilihat dari sisi penggantian teknologi kendaraan. Peralihan tersebut juga menyangkut keberlangsungan mata pencaharian pengemudi, kernet, pekerja operasional hingga tenaga administrasi yang selama ini bekerja di sektor angkutan umum.
Karena itu, ia meminta proses modernisasi tetap memperhatikan keberadaan pekerja lama. Pemerintah diharapkan dapat memastikan tenaga kerja yang terdampak perubahan tetap memperoleh kesempatan untuk masuk dan bekerja dalam ekosistem transportasi yang baru.
“Yang penting bagi saya win-win solution. Pemerintah punya program, tapi bagaimana ke depannya pengemudi, pekerja, helper, juga karyawan administrasi bisa diambil dari anggota kami,” tegasnya.
Selain mendorong elektrifikasi, Organda juga meminta adanya perluasan jaringan layanan transportasi umum di Surabaya. Dalam forum tersebut disebutkan terdapat rencana pembukaan dua koridor baru yang ditargetkan dapat direalisasikan pada tahun ini.
Sunhaji menyatakan Organda akan ikut mengawal rencana tersebut agar pembukaan koridor tidak berhenti pada tahap pembahasan.
“Paling tidak tahun ini sudah ada dua koridor yang akan diluncurkan di Surabaya. Dan itu akan saya kawal agar bisa direalisasikan,” katanya.
Penambahan koridor dinilai penting untuk memperluas akses masyarakat terhadap transportasi umum. Semakin banyak pilihan rute diharapkan dapat mendorong masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Elektrifikasi dan perluasan jaringan layanan diharapkan dapat berjalan secara bersamaan. Dengan demikian, penggunaan kendaraan listrik tidak sekadar menjadi tanda modernisasi, tetapi dapat menjadi bagian dari sistem transportasi yang lebih rendah emisi sekaligus tetap memberikan ruang bagi keberlangsungan usaha angkutan umum lokal.
“Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi?” pungkas Sunhaji.











Discussion about this post