Jakarta, Kabar SDGs – Presiden Prabowo Subianto menekankan komitmen pemerintah dalam memperkuat layanan kesehatan nasional melalui pembangunan rumah sakit, penambahan fakultas kedokteran, serta percepatan pencetakan tenaga medis terutama dokter spesialis.
Kepala Negara mengakui Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam ketersediaan tenaga kesehatan. “Kita masih menghadapi kendala. Bangsa kita sangat besar. Kekurangan dokter, kekurangan spesialis, kekurangan tenaga paramedis terjadi di seluruh dunia. Kita harus menggunakan segala kemampuan kita untuk mencapai cita-cita kita, yaitu kesehatan dengan pelayanan terbaik untuk seluruh rakyat Indonesia,” kata Presiden Prabowo saat meresmikan Gedung Layanan Terpadu dan Institut Neurosains Nasional Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Mahar Mardjono, Jakarta, Selasa (26/8).
Presiden menegaskan bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan hak dasar rakyat sekaligus perwujudan nyata demokrasi. Ia menekankan perlunya tata kelola sektor kesehatan yang bersih. “Pendidikan yang terbaik dan kesehatan yang terbaik hanya bisa diwujudkan kalau tidak ada korupsi, kalau tidak ada manipulasi, kalau tidak ada kebocoran. Setiap rupiah yang membeli alat-alat terbaik di dunia harus sampai ke rakyat,” tegasnya.
Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia masih kekurangan sekitar 70 ribu dokter spesialis, sementara produksi dokter spesialis hanya 2.700 per tahun. Jika dibiarkan, kekurangan itu baru bisa terpenuhi dalam 35 tahun. Karena itu, ia menilai langkah luar biasa sangat diperlukan. “Jadi kita harus berupaya dengan langkah-langkah yang tidak bisa normatif. Mengejar pembangunan Indonesia, mengejar kesejahteraan Indonesia, tidak bisa business as usual, tidak bisa. We have to work harder, we have to do our best,” ucap Presiden.
Sebagai langkah konkret, pemerintah menargetkan pembangunan 500 rumah sakit berkualitas tinggi di seluruh kabupaten dalam empat tahun ke depan. Selain itu, sebanyak 148 program studi baru di 57 fakultas kedokteran akan dibuka, termasuk program spesialis dan subspesialis. “Target saya akan ada 30 fakultas kedokteran baru, Insyaallah untuk mengejar tadi 70 ribu spesialis dan dokter umum kekurangannya adalah 140 ribu. Kalau tidak ya kita tunggu 35 tahun,” ungkapnya.
Dengan visi tersebut, Presiden Prabowo menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia mampu mengejar ketertinggalan di bidang kesehatan. “Di hati kita kalau kita punya niat, InsyaAllah kita akan mencapai itu. We have the resources, we have to manage our resources,” demikian Presiden Prabowo.












Discussion about this post