Jakarta, Kabar SDGs – Gelombang perubahan ekonomi dan sosial di Indonesia kerap berawal bukan dari pusat kota, tetapi dari kerja senyap anak-anak bangsa di pelosok desa. Melalui rangkaian program tanggung jawab sosial, Astra menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat diberdayakan hingga mampu menembus pasar global. Hingga 2024, kontribusi sosial perusahaan ini telah menjangkau 2,63 juta penerima manfaat di berbagai daerah, sementara nilai ekspor produk dari Desa Sejahtera Astra pada periode 2020–2024 mencapai Rp349 miliar, menandakan daya saing produk desa di pasar internasional.
Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, menegaskan kebanggaan perusahaan terhadap para pemuda desa yang menjadi penggerak perubahan. “Mereka adalah bukti bahwa daya juang Indonesia lahir dari desa-desa, dari kepedulian yang tidak pernah padam. Astra berharap semangat ini menggugah lebih banyak anak bangsa untuk ikut bergerak bersama membangun hari ini dan masa depan Indonesia,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Jumat, 21 November 2025. Ia menyebut bahwa program sosial Astra berfokus pada empat pilar utama—kesehatan, pendidikan, kewirausahaan, dan lingkungan—yang selaras dengan upaya peningkatan kualitas hidup dan pencapaian SDGs.
Sejak 2010, Astra terus mencari figur-figur inspiratif melalui SATU Indonesia Awards. Program ini telah menemukan 792 pemuda penggerak yang bekerja sama dengan lebih dari 1.500 Kampung Berseri Astra dan Desa Sejahtera Astra di 35 provinsi. Di balik capaian statistik tersebut, terdapat kisah sejumlah tokoh yang memilih kembali ke desa demi membangun tanah kelahiran mereka. Mama Nela dari Papua menjaga “Hutan Perempuan” di Enggros bersama kaum ibu melalui penanaman mangrove yang menjadi sumber pangan dan pendapatan. Di Jawa Barat, Bernard “Oday” Langoday membangun ekosistem kopi Garut dari hulu ke hilir dan menggerakkan lebih dari 4.000 warga.
Dari Sulawesi Selatan, Zainal Abidin kembali ke kampung halamannya untuk menjaga kawasan Karst Rammang-Rammang sekaligus mendorong desa itu menjadi destinasi wisata dunia, sambil memproduksi pupuk organik dan memantau kesehatan warga dengan perahu. Ritno Kurniawan di Sumatera Barat mengubah hutan bekas pembalakan liar menjadi destinasi wisata Nyarai dan kini memberdayakan 150 pemandu wisata. Di Kalimantan Barat, Priska Yeniriatno membangun rumah batik dan memberdayakan pemuda putus sekolah di tiga kampung wisata. Sementara di Nusa Tenggara Timur, Dian Banunu tetap mengabdi sebagai guru di Takari meski harus menumpang truk dua jam setiap hari untuk menjangkau murid-murid di Oesusu, Kupang.
Kisah para penggerak ini telah didokumentasikan dan dapat disaksikan melalui kanal YouTube SATU Indonesia, menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda lain. Melalui komitmennya menuju “Sejahtera Bersama Bangsa,” Astra menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi harus dirasakan hingga ke tingkat desa, memastikan tidak ada yang tertinggal dalam perjalanan menuju masa depan Indonesia yang lebih cerah.












Discussion about this post