• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
26 Oktober 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home TRAVEL & LIFESTYLE

Camino de Flores Etape Tengah Resmi Dimulai

Ziarah Berjalan Kaki Merajut Spiritualitas, Budaya, dan Persaudaraan di Flores

by Riski Yanti
26 Oktober 2026
Camino de Flores Etape Tengah Resmi Dimulai
15
SHARES
95
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

Ngada, KabarSDGs — Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores – A Spiritual Journey of Reflection and Recovery resmi memulai perjalanan Etape Tengah pada Jumat (23/10) sore, ditandai dengan Misa pembukaan di Taman Rohani Maria Ratu Semesta Alam Wolowio, Beiposo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Perjalanan yang berlangsung pada 23–27 Oktober 2026 ini menghubungkan Kabupaten Ngada, Nagekeo, hingga Ende melalui pengalaman ziarah berjalan kaki yang memadukan spiritualitas, kekayaan alam, budaya, dan interaksi dengan masyarakat setempat.

BACA JUGA

Camino de Flores Etape Tengah Hari Kedua, Perkuat Wisata Religi dan Solidaritas untuk Pemulihan Flores

Camino de Flores Etape Tengah Hari Kedua, Perkuat Wisata Religi dan Solidaritas untuk Pemulihan Flores

26 Oktober 2026
Batik Malangan Perkuat Identitas Kota Malang

Batik Malangan Perkuat Identitas Kota Malang

6 Oktober 2026
Kemenpar Dorong Ekonomi Sade Kembali Bergerak, Salurkan Bantuan Pemulihan Usaha

Kemenpar Dorong Ekonomi Sade Kembali Bergerak, Salurkan Bantuan Pemulihan Usaha

1 Oktober 2026

Usai Misa pembukaan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan perarakan Patung Bunda Maria dan perjalanan berjalan kaki menuju Kampung Adat Beiposo.

Prosesi ini menjadi bagian dari pengalaman ziarah yang mengajak peserta memaknai setiap langkah sebagai ruang untuk berdoa, berefleksi, serta membangun kedekatan dengan alam dan kehidupan masyarakat Flores.

Sekitar 70 peserta dijadwalkan menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 70 kilometer melalui rute Bajawa–Boawae–Ende.

Sebagai proyek percontohan, pelaksanaan Etape Tengah ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi pengembangan pola perjalanan wisata religi yang menghubungkan berbagai potensi spiritual, budaya, dan alam di Pulau Flores.

Hari pertama perjalanan ditutup dengan makan malam bersama di Kampung Adat Beiposo yang dihadiri Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu, para imam dan rohaniwan, umat, tokoh adat, serta masyarakat setempat.

Suasana kebersamaan tersebut mencerminkan keramahan dan keterbukaan masyarakat Ngada dalam menyambut para peserta Camino de Flores.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu menyampaikan apresiasi atas kehadiran peserta Camino de Flores yang memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperkenalkan kekayaan alam, budaya, tradisi, dan nilai persaudaraan di Kabupaten Ngada.

Ia juga menjelaskan bahwa tradisi penyambutan melalui sapaan adat, pengalungan selendang, tarian, hingga makan bersama bukan sekadar rangkaian seremoni, melainkan ungkapan penghormatan dan penerimaan masyarakat terhadap para tamu.

“Dalam tradisi masyarakat Ngada, makan bersama memiliki makna yang mendalam. Kita duduk bersama tanpa sekat, bertukar hidangan, bertukar cerita, dan membangun kedekatan dengan sesama,” ungkapnya.

Makan bersama tersebut sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara peserta dan masyarakat lokal, memperkuat hubungan antarsesama, serta menghadirkan pengalaman budaya yang menjadi bagian penting dari perjalanan Camino de Flores.

Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, menyampaikan rasa syukur atas sambutan masyarakat sepanjang hari pertama perjalanan.

Ia menuturkan bahwa gagasan Camino de Flores berangkat dari pengalaman mengikuti perjalanan Camino sebelumnya (Camino de Compostela, Spanyol) yang memberinya ruang untuk berefleksi, mengenali diri, dan mempererat hubungan dengan keluarga maupun sesama pejalan.

Flores dipilih karena memiliki kekayaan alam, budaya, dan spiritualitas yang beragam, termasuk destinasi di wilayah tengah pulau Flores yang belum banyak dikenal oleh wisatawan.

Melalui Camino de Flores, ia berharap pengalaman berjalan kaki dapat membuka kesempatan bagi peserta untuk berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat, mengenal potensi lokal, serta menemukan makna dari setiap perjumpaan selama perjalanan.

”Perjalanan ini diharapkan dapat menggalang dukungan bagi pembangunan Flores dan mendorong semakin banyak orang untuk mengenal berbagai wilayah di Pulau Flores. Camino de Flores ini harapannya juga dapat terus dikembangkan dan diselenggarakan kembali dengan memperhatikan pembelajaran dari pelaksanaan pilot project ini,” ungkap Mari.

Dalam kesempatan yang sama, Vikaris Episkopal (Vikep) Bajawa mengajak para peserta memaknai perjalanan melalui semboyan El camino es la meta, yang berarti perjalanan itu sendiri adalah tujuan.

Ia menekankan bahwa Camino de Flores tidak semata-mata berorientasi pada tempat yang dituju, tetapi juga pada pengalaman spiritual, perjumpaan dengan sesama, serta keterhubungan dengan alam dan budaya.

Pada hari pertama penyelenggaraan, Mari Elka Pangestu juga menyerahkan bantuan secara simbolis untuk mendukung penataan kawasan Taman Rohani Maria Ratu Semesta Alam Wolowio, bantuan pembangunan toilet (telah dibangun sebelum Camino berlangsung), pemberian perlengkapan doa berupa Rosario, serta bantuan lain seperti pakaian hangat, seprai dan selimut untuk menunjang kenyamanan masyarakat di Beiposo.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari semangat kepedulian dan berbagi yang menyertai pelaksanaan Camino de Flores.

Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy MT Marpaung, menilai Camino de Flores sebagai peluang untuk memperkuat pengembangan pola perjalanan wisata religi Katolik di Pulau Flores.

Melalui pendekatan perjalanan dengan berjalan kaki ke berbagai situs religi, gereja, kampung adat, bentang alam, dan tradisi masyarakat, peserta Camino Flores dapat terhubung dalam satu pengalaman perjalanan yang lebih utuh.

“Camino de Flores membuka peluang untuk memperkenalkan Flores melalui pengalaman perjalanan yang lebih mendalam, dengan menghubungkan spiritualitas, alam, budaya, dan kehidupan masyarakat. Pengembangan pola perjalanan wisata religi ini diharapkan dapat memperluas persebaran kunjungan wisatawan, mendorong wisatawan tinggal lebih lama, serta menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal,” ujar Andhy.

Ia menambahkan bahwa pengembangan pola perjalanan tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, gereja, komunitas lokal, pelaku pariwisata, serta masyarakat untuk memastikan kesiapan rute, kenyamanan, keamanan, dan keberlanjutan destinasi.

Melalui pelaksanaan Etape Tengah pada 23–27 Oktober 2026, Camino de Flores diharapkan menjadi langkah awal untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih bermakna, memperluas pengenalan potensi daerah di luar Labuan Bajo, serta memperkuat kolaborasi dalam pengembangan pariwisata Flores yang berkualitas dan berkelanjutan.

Share6SendTweet4
Previous Post

Camino de Flores Etape Tengah Hari Kedua, Perkuat Wisata Religi dan Solidaritas untuk Pemulihan Flores

Next Post

KemenEkraf & UN DESA Petakan Tantangan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Inklusif

Next Post
KemenEkraf & UN DESA Petakan Tantangan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Inklusif

KemenEkraf & UN DESA Petakan Tantangan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Inklusif

Kementerian PU Perkuat Tanggul Sungai Pasca Banjir di Tapanuli Tengah

Kementerian PU Perkuat Tanggul Sungai Pasca Banjir di Tapanuli Tengah

Discussion about this post

NEWS UPDATE

Membumikan Kepemimpinan melalui Transportasi Publik

Membumikan Kepemimpinan melalui Transportasi Publik

26 Oktober 2026
Kementerian PU Perkuat Tanggul Sungai Pasca Banjir di Tapanuli Tengah

Kementerian PU Perkuat Tanggul Sungai Pasca Banjir di Tapanuli Tengah

26 Oktober 2026
KemenEkraf & UN DESA Petakan Tantangan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Inklusif

KemenEkraf & UN DESA Petakan Tantangan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Inklusif

26 Oktober 2026
Camino de Flores Etape Tengah Resmi Dimulai

Camino de Flores Etape Tengah Resmi Dimulai

26 Oktober 2026
Camino de Flores Etape Tengah Hari Kedua, Perkuat Wisata Religi dan Solidaritas untuk Pemulihan Flores

Camino de Flores Etape Tengah Hari Kedua, Perkuat Wisata Religi dan Solidaritas untuk Pemulihan Flores

26 Oktober 2026

POPULAR

  • PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    3963 shares
    Share 1585 Tweet 991
  • BPKH Salurkan Bingkisan Lebaran Untuk 100 Anak Yatim Di Malang

    3927 shares
    Share 1571 Tweet 982
  • Minamas Plantation Berbagi dengan Anak Yatim di Pekanbaru

    3988 shares
    Share 1595 Tweet 997
  • Bank Muamalat Gelar Muamalah Executive Class Bahas Perjalanan Finansial dan Spiritual Menuju Baitullah

    3377 shares
    Share 1351 Tweet 844
  • Cargill Raih Gold Award ISDA Berkat Program Rumah Kompos 5R di Gresik

    4025 shares
    Share 1610 Tweet 1006

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.