Mojokerto, Kabar SDGs – Sebanyak 1.499 kepala keluarga di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau yang telah berlangsung sekitar empat bulan sejak akhir Maret 2026. Kondisi tersebut berdampak pada ribuan warga yang kini harus berjuang memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari.
Kekeringan melanda dua dusun di wilayah tersebut, yakni Dusun Kunjoro dan Dusun Kandangan. Warga, khususnya di Dusun Kandangan, terpaksa mengandalkan cadangan air hujan yang ditampung di kolam maupun tandon yang tersedia di masing-masing rumah.
Salah seorang warga Dusun Kandangan, Mahfud (43), mengatakan krisis air bersih telah berlangsung sejak sekitar April lalu dan menjadi persoalan yang berulang setiap musim kemarau.
“Sudah hampir empat bulan sejak April. Lingkungan sini memang kalau masalah air bersih tiap tahun tidak ada. Di sini ada sekitar 85 kepala keluarga,” kata Mahfud, Sabtu (18/7/2026).
Menurutnya, persediaan air hujan yang ditampung warga hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar satu bulan. Setelah itu, masyarakat harus bergantung pada distribusi air melalui jaringan pipa bantuan yang dialirkan dari wilayah Trawas secara bergiliran.
“Air yang ditampung itu hanya bisa digunakan satu bulan saja dan tidak mencukupi. Ada pipa bantuan dari desa atau yang mengaliri dari Trawas itu menunggu giliran. Ada 12 rukun tetangga (RT) jadi 12 RT itu dibagi tiap hari atau bergilir. Kebetulan sini RT 12 jadi menunggu 12 hari dan hanya bisa dipakai dua hari atau paling lama satu minggu,” ungkapnya.
Untuk memenuhi kebutuhan mandi, mencuci, kakus (MCK), hingga air minum, warga harus mengambil air dari sumber yang berada di Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, dengan jarak sekitar tujuh kilometer dari permukiman mereka.
“Ambil airnya jauh sekitar tujuh kilometer di area Sumber Tetek atau istilahnya gambar itu desa lain, sudah desa lain juga kabupaten ikut Pasuruan itu ambilnya pakai sepeda motor itu bagi yang punya sepeda. Kalau yang tidak punya sepeda artinya sewa pikap nanti orang-orang ada 10 orang ongkosnya bagi-bagi,” paparnya.
Mahfud menjelaskan, berbagai upaya untuk mencari sumber air bersih sebenarnya telah dilakukan. Pengeboran sumur hingga dua kali, bahkan dengan melibatkan tenaga ahli, belum berhasil menemukan sumber air yang dapat dimanfaatkan warga.
Karena itu, masyarakat berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan air bersih melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun instansi terkait agar kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi selama musim kemarau masih berlangsung.
“Mengandalkan air hujan dan bantuan, kalau kemarau hanya mengandalkan air hujan saja. Jadi kamk berharap kepada bpbd atau dinas-dinad terkait yang ingin membantu air bersih, sementara tahun ini sudah hampir empat bulan kekeringan disini itu belum dapat bantuan atau belum datang,” pungkasnya.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Mojokerto, terdapat tiga desa di kawasan kaki Gunung Penanggungan yang terdampak kekeringan. Selain Desa Kunjorowesi dengan 1.499 kepala keluarga atau 3.053 jiwa terdampak, Desa Manduro Manggung Gajah di Kecamatan Ngoro juga mengalami kondisi serupa dengan 774 kepala keluarga atau 2.086 jiwa terdampak. Sementara itu, Desa Duyung di Kecamatan Trawas tercatat memiliki 503 kepala keluarga atau 1.564 jiwa yang turut merasakan dampak krisis air bersih.












Discussion about this post