• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
20 Juni 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home SUSTAINABILITY KESEHATAN

Budaya Minum Jamu yang Menyehatkan Perlu Dilestarikan dan Dikembangkan

by SDGS Admin
20 Agustus 2022
Budaya Minum Jamu yang Menyehatkan Perlu Dilestarikan dan Dikembangkan
54
SHARES
335
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

JAKARTA, KabarSDGs – Potensi pengembangan bisnis obat herbal di Indonesia masih terbuka lebar, diantaranya dengan adanya kebiasaan konsumsi jamu masyarakat Indonesia.

Data riset kesehatan pada tahun 2018 menunjukkan 48 persen masyarakat mempunyai kebiasaan menggunakan pelayanan kesehatan tradisional dalam upaya kesehatan, salah satunya dengan mengkonsumsi jamu.

BACA JUGA

Apresiasi Kartini Hotel Surabaya Bagikan Jamu Tradisional

Apresiasi Kartini Hotel Surabaya Bagikan Jamu Tradisional

25 April 2026
Kemenhub dan BRIN Bangun Teknologi Smart Buoy Untuk Navigasi Pelayaran

Kemenhub dan BRIN Bangun Teknologi Smart Buoy Untuk Navigasi Pelayaran

15 Februari 2026
Otorita IKN dan BRIN Kolaborasi Kaji Penamaan Rupa Bumi di Nusantara

Otorita IKN dan BRIN Kolaborasi Kaji Penamaan Rupa Bumi di Nusantara

21 Oktober 2025

“Hal ini menunjukkan bahwa budaya minum jamu sudah merupakan tradisi leluhur bangsa yang perlu dilestarikan dan dikembangkan,” kata Kepala Organisasi Riset Kesehatan (ORK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), NLP Indi Dharmayanti pada webinar memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke-27, bertajuk ‘Saintifikasi Jamu: Mengungkap Warisan Budaya untuk Menyehatkan Bangsa’ yang dihelat pada Jumat (19/8).

Indi menjelaskan, peluang HAKTEKNAS ke-27 dapat menjadi momentum untuk mendorong kebangkitan industri herbal berbasis inovasi hasil implementasi teknologi terkini.

Menurutnya, untuk menghasilkan produk yang semakin aman, bermutu dan berkhasiat, tentunya untuk menghasilkan produk herbal tersebut dibutuhkan landasan riset yang kuat dari segala aspek, di bagian hulu perlu di dorong riset dalam rangka penyediaan bahan baku yang cukup, bermutu dan berkelanjutan.

Ia melanjutkan, dengan terbitnya Keputusan Menteri Kesehatan tentang formularium fitofarmaka, maka penggunaan fitofarmaka dalam pelayanan kesehatan formal yang akan masuk ke dalam skema pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Momentum ini menjadi penting untuk direspon melalui intensifikasi riset pengembangan fitofarmaka guna menyediakan lebih banyak pilihan fitofarmaka yang masuk keformulatorium nasional,” tegas Indi.

Ia meneruskan, riset tersebut dapat dimulai dengan pemetaan penggunaan jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT) dan fitofarmaka di sarana fasilitas pelayanan kesehatan, dan hasilnya menjadi data basis pengembangan formula apa yang dibutuhkan mendukung penggunaan regimen terapi konvensional. Disamping itu, tentunya hasil saintifikasi jamu berupa 11 ramuan jamu scientific yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan dapat dikembangkan menjadi OHT atau fitofarmaka dengan riset lanjutan yaitu peningkatan dalam bentuk sediaan ke arah komersial produk.

“Saya berharap dengan webinar ini mampu melahirkan ide dan inovasi terkait obat herbal atau jamu kepada seluruh yang hadir pada momen hari ini,” harap Indi.

Perekayasa Ahli Madya PRBBOOT,
Chaidir Amin menjelaskan, mengenai strategi penguatan riset tanaman obat untuk meningkatkan mutu bahan baku jamu.

“Dukungan riset bagi Bahan Baku Obat Bahan Alam (BBOBA) yang bermutu yaitu ketersediaan BBOBA dengan mutu yang baik atau konsisten dan jumlah yang berkelanjutan, sangat diperlukan untuk meningkatkan keamanan dalam penggunaan, manfaat bagi masyarakat serta daya saing industri,” ujarnya.

Dirinya juga menerangkan, sumber tanaman obat 85 persen diperoleh dari alam sebagai tumbuhan liar, yang berdampak mutu beragam, adulterasi, kepunahan dan pasokan tidak berkelanjutan. Selain itu, pelaku produsen tanaman obat didominsi petani pengumpul bukan penanam.

“Sehingga kita harus tingkatkan sisi produsennya dan kita harus buka sentra-sentra produksi di tempat lain,” tutur Chaidir.

Ia melanjutkan, selain riset ilmu hayati dan keteknikan, dibutuhkan juga riset sosial ekonomi untuk menghasilkan kebijakan dan regulasi bagi intervensi di bidang ekonomi mikro, perdagangan dan kelembagaan dalam bisnis BBOBA.

“Di BRIN semuanya sudah ada, kita tinggal bekerja sama dengan perguruan tinggi dan pemerintah agar semuanya bisa terselesaikan dengan paripurna. Untuk meningkatkan difusi dan adopsi IPTEK produksi BBOBA dapat digunakan model konsorsium kemitraan qudruple helix yang sudah kita laksanakan sampai saat ini, sehingga meningkatkan mutu BBOBA dan jumlah sentra produksi tanaman obat dan BBOBA,” pungkas Chaidir.

Share22SendTweet14
Previous Post

Sanur Village Festival 2022 Ciptakan Multiplier Effect Bagi Pelaku Parekraf

Next Post

Rinjani Color Run 2022 Dimulai, Diharap dapat Memulihkan Ekonomi Warga Sekitar

Next Post
Rinjani Color Run 2022 Dimulai, Diharap dapat Memulihkan Ekonomi Warga Sekitar

Rinjani Color Run 2022 Dimulai, Diharap dapat Memulihkan Ekonomi Warga Sekitar

Sandiaga Uno: Wisata Sejarah Salah Satu yang Paling Banyak Peminatnya Saat Ini

Sandiaga Uno: Wisata Sejarah Salah Satu yang Paling Banyak Peminatnya Saat Ini

Discussion about this post

NEWS UPDATE

Bupati Kutim Kumpulkan Perusahaan Sawit Bahas Harga TBS

Bupati Kutim Kumpulkan Perusahaan Sawit Bahas Harga TBS

19 Juni 2026
AHRT Raih Tiga Podium di ARRC Motegi 2026

AHRT Raih Tiga Podium di ARRC Motegi 2026

19 Juni 2026
Satlantas Rohil Salurkan Bantuan ke Panti Asuhan pada Hari Bhayangkara

Satlantas Rohil Salurkan Bantuan ke Panti Asuhan pada Hari Bhayangkara

19 Juni 2026
Indonesia Perkuat Ekraf Jadi Mesin Baru Hadapi Persaingan Kekuatan Global

Indonesia Perkuat Ekraf Jadi Mesin Baru Hadapi Persaingan Kekuatan Global

19 Juni 2026
RAT KUD Sejahtera Tegaskan Peran Koperasi Dorong Hilirisasi Sawit

APKASINDO Luncurkan Platform Informasi Harga Sawit Nasional

19 Juni 2026

POPULAR

  • Cargill Raih Gold Award ISDA Berkat Program Rumah Kompos 5R di Gresik

    Cargill Raih Gold Award ISDA Berkat Program Rumah Kompos 5R di Gresik

    453 shares
    Share 181 Tweet 113
  • Bank Muamalat Gelar Muamalah Executive Class Bahas Perjalanan Finansial dan Spiritual Menuju Baitullah

    416 shares
    Share 166 Tweet 104
  • PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    417 shares
    Share 167 Tweet 104
  • Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    693 shares
    Share 277 Tweet 173
  • Kemenpar Perkuat Persiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark Indonesia

    413 shares
    Share 165 Tweet 103

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.