Balikpapan, Kabar SDGs – PT PLN (Persero) UID Kaltimra melalui PLN UP3 Balikpapan meluncurkan Bank Sampah SPI Balikpapan di SMKN 5 Balikpapan sebagai pionir pendidikan lingkungan berbasis sekolah. Program ini mengajarkan siswa tidak hanya memilah sampah, tetapi juga mengelolanya agar bernilai ekonomi dalam ekosistem ekonomi sirkular.
Plt. Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Balikpapan, Dody Yulianto, menilai langkah tersebut bisa menjadi contoh positif bagi sekolah lain. “Sekolah adalah laboratorium kehidupan. Satu aksi kecil bisa menciptakan efek domino besar. Bank sampah berkontribusi pada ekonomi sirkular sekaligus pengurangan sampah di Balikpapan,” katanya saat peresmian, Selasa lalu, (23/09).
Kepala SMKN 5 Balikpapan, Mohamad Arifin, menjelaskan program ini telah diintegrasikan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler SPI. Dukungan PLN berupa pembangunan workshop, penyediaan sarana prasarana, hingga motor roda tiga listrik untuk operasional bank sampah. “Dengan fasilitas ini, siswa bisa belajar langsung memproses sampah secara lebih baik. Harapannya program ini bisa menjadi pelopor dan direplikasi di sekolah lain,” kata Arifin.
Sejak 2024, PLN sudah menyalurkan bantuan mesin press botol plastik dan mesin pencacah. Tahun ini, dukungan diperkuat dengan pembangunan workshop dan penyediaan kendaraan listrik untuk mendukung pengelolaan sampah lebih efisien.
General Manager PLN UID Kaltimra, Muchamad Chaliq Fadli, menegaskan dukungan terhadap Bank Sampah SPI merupakan bentuk investasi jangka panjang. “Dengan membekali generasi muda pengetahuan tentang energi bersih dan pengelolaan lingkungan, kami percaya mereka akan menjadi motor penggerak menuju Indonesia hijau dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menambahkan, roadmap pengembangan Bank Sampah SPI sudah disusun, mulai dari pelatihan siswa, digitalisasi pencatatan sampah, penguatan jejaring antar sekolah dan komunitas, hingga terciptanya ekosistem ekonomi sirkular.
Manager PLN UP3 Balikpapan, Arief Prastyanto, menekankan program ini sejalan dengan SDGs 12 terkait konsumsi dan produksi berkelanjutan. “Melalui Bank Sampah, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik nyata. Kami ingin mereka tumbuh sebagai agen perubahan yang menginspirasi keluarga dan lingkungan untuk lebih peduli terhadap bumi,” ujarnya.












Discussion about this post