• HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
31 Mei 2026
No Result
View All Result
Kabar SDGs
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI
No Result
View All Result
Kabar SDGs
No Result
View All Result
Home SUSTAINABILITY

Kondisi Pertanian Indonesia Memprihatinkan, Desa Tani Berkelanjutan Solusinya

by SDGS Admin
22 Maret 2023
Kondisi Pertanian Indonesia Memprihatinkan, Desa Tani Berkelanjutan Solusinya
140
SHARES
878
VIEWS
Bagikan di FacebookWhatsapp

JAKARTA, KabarSDGs – Di Indonesia saat ini masih banyak terdapat masyarakat miskin di pedesaan pertanian. Melihat hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadikan pertanian sebagai salah satu objek material dari sebuah proses penelitian, pendampingan yang akan kami lakukan ke depan. Baik melalui riset aksi, maupun riset biasa, dan diiringi dengan berbagai kegiatan lainnya.

Kepala Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa, dan Konektivitas (PRKSDK), Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat (ORTKPEKM), BRIN Alie Humaedi mengatakan, situasi pedesaan pertanian sekarang, sangat memprihatinkan.

BACA JUGA

Kutim Perluas Sawah demi Swasembada Pangan

Kutim Perluas Sawah demi Swasembada Pangan

30 Mei 2026
Hortikultura Kutim Jadi Harapan Baru Ekonomi Desa

Hortikultura Kutim Jadi Harapan Baru Ekonomi Desa

28 Mei 2026
Pertanian Organik Mojokerto Jadi Strategi Hadapi Perubahan Iklim

Pertanian Organik Mojokerto Jadi Strategi Hadapi Perubahan Iklim

27 Mei 2026

“Saya ingin mengucapkan terima kasih, dan mendorong, serta memberikan penghargaan kepada semua petani di Indonesia. Mereka adalah pahlawan pangan, yang kadang kita tidak pernah menilainya dengan apresiasi yang tinggi. Mereka sering kali menjadi obyek penderitaan, dari sebuah proses pembangunan di negara ini,” ujarnya dalam webinar BRIN Insight Every Friday (BRIEF) episode ke-69 mengusung tema Desa Tani: Anomali Sebuah Bangsa Agraris pada Jumat (17/03/2023).

Menurut Alie, kendati dikenal sebagai negara agraris, nyatanya untuk memasok kebutuhan pangan di dalam negeri saja, Indonesia masih harus impor beras. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya penduduk desa yang berurbanisasi, atau memilih pergi menjadi pekerja migran ketimbang menjadi petani di daerah asalnya.

“Ibarat lumbung penuh pangan dibiarkan tanpa kemauan dan itikat baik penduduknya,” ungkap Alie.

Menurutnya, anomali perubahan sosial ini tidak terlepas dari kondisi kehidupan petani di pedesaan.

“Jangankan untuk sejahtera, untuk membiayai kebutuhan hidupnya saja harus menjual sawah tempat mata pencariannya,” keluh Ali.

Selain itu, ia mengungkapkan, setidaknya terdapat tiga masalah yang dihadapi dalam pertanian. Pertama, masalah lahan yang semakin terbatas dengan banyaknya alih fungsi lahan pertanian. Alih fungsi lahan dan kebijakan pemanfaatan tanah, serta keterbatasan akses banyak dijumpai di daerah pertanian.

Kedua, masalah ketenagakerjaan, yaitu 80 persen profesi petani didominasi oleh orang tua, sementara pelibatan kaum perempuan, kaum muda, disabilitas, dan masyarakat adat masih kurang.

Ketiga adalah masalah mata rantai produksi yang kerap menjerat para petani. Produksi pertanian sering terganggu akibat adanya sistem mata rantai yang merugikan petani.

Menurut Ali, untuk mengatasi permasalahan tersebut, memberikan solusi dengan menciptakan atau membangun Desa Tani berkelanjutan.

“Kita perlu mendorongnya secara berkelanjutan, misalnya perlu kebijakan strategis persoalan pangan, program pro petani, penciptaan lahan baru, serta peningkatan kualitas dan tata kelola lahan,” jelasnya.

Menurutnya, solusi selanjutnya adalah Desa Tani berbasis komoditas, yaitu penguatan ketenagakerjaan, adopsi dan adaptasi teknologi, serta komoditas pertanian terpadu. Setelah itu, lanjutnya, mitigasi dan respon kegagalan, serta solusi selanjutnya pengutan produksi hulu dan hilir pertanian.

Menurut Allie, jika berbagai permasalahan di sektor pertanian dibiarkan, maka keadaan petani dan dunia pertanian, akan menjadi sebuah anomali dari sebuah bangsa yang mengidentikkan dirinya sebagai bangsa agraris.

“Kalau kita melupakan mereka, melupakan sebuah proses menjadi Desa Tani yang sejahtera. Berarti, kita sedang memposisikan anomali bangsa ini,” tegasnya.

Alie melanjutkan, merancang bangun Desa Tani, berarti memulihkan kembali kondisi pertanian untuk menjadi lebih baik dan mampu mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri. Dibutuhkan dukungan pemerintah, guna mewujudkan Desa Tani yang mampu memberikan solusi, atas permasalahan yang selama ini dihadapi oleh para petani.

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki karakter kuat sebagai negeri agraris, maka desa tani menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan negara ini.

“Bagaimana cara membangun desa tani secara berkelanjutan, maka proses stimulasi yang efektif bagi literasi, adopsi. Adaptasi teknologi, yang berbasiskan pada sumber pengetahuan lokal, ataupun global. Memungkinan inovasi-inovasi dalam bidang pertanian, bisa dikembangkan. Riset aksi menjadi salah satu jalan, dari upaya-upaya ini,” ungkapnya.

Alie juga berharap, melalui riset dan inovasi, Desa Tani dapat diwujudkan dan menjadi solusi di bidang pertanian.

“Semoga ke depannya, baik secara individu maupun kelembagaan, BRIN mampu mendorong model riset aksi ini bisa dikembangkan lebih lanjut. Jadi sains bukan hanya urusan sains, tapi science for society, science for empowerment, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan dan perencanaan BRIN ke masa mendatang,” pungkasnya.

Share56SendTweet35
Previous Post

UGM Raih 3 Penghargaan dalam Ajang Serikat Perusahaan Pers Awards 2023

Next Post

Menteri Perdagangan Ajak Delegasi ASEAN Economic Ministers Retreat 2023 Menikmati Suasana Candi Borobudur

Next Post
Menteri Perdagangan Ajak Delegasi ASEAN Economic Ministers Retreat 2023 Menikmati Suasana Candi Borobudur

Menteri Perdagangan Ajak Delegasi ASEAN Economic Ministers Retreat 2023 Menikmati Suasana Candi Borobudur

BMKG Ajak Masyarakat untuk Ikut Berkontribusi Menahan Laju Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

BMKG Ajak Masyarakat untuk Ikut Berkontribusi Menahan Laju Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Discussion about this post

NEWS UPDATE

WHO Peringatkan Wabah Ebola di Tengah Konflik Kongo

WHO Peringatkan Wabah Ebola di Tengah Konflik Kongo

31 Mei 2026
Sentra Songket Silungkang Resmi Beroperasi

Sentra Songket Silungkang Resmi Beroperasi

31 Mei 2026
Program TJSL Pertamina Kalimantan Raih Pengakuan Internasional

Program TJSL Pertamina Kalimantan Raih Pengakuan Internasional

31 Mei 2026
Internet Rakyat Hadir dengan Tarif mulai Rp100 Ribu

Internet Rakyat Hadir dengan Tarif mulai Rp100 Ribu

31 Mei 2026
CSR Pertamina Balikpapan Raih Penghargaan Nasional

CSR Pertamina Balikpapan Raih Penghargaan Nasional

30 Mei 2026

POPULAR

  • Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    Kerja Sama Shopee dan J&T Express Berakhir Setelah Bertahun Lamanya

    386 shares
    Share 154 Tweet 97
  • Minamas Plantation Berbagi dengan Anak Yatim di Pekanbaru

    117 shares
    Share 47 Tweet 29
  • BPKH Salurkan Bingkisan Lebaran Untuk 100 Anak Yatim Di Malang

    112 shares
    Share 45 Tweet 28
  • PTBA Buka Pendaftaran Program BIDIKSIBA 2026

    112 shares
    Share 45 Tweet 28
  • Bank Muamalat Gelar Muamalah Executive Class Bahas Perjalanan Finansial dan Spiritual Menuju Baitullah

    109 shares
    Share 44 Tweet 27

NEWS CHANNELS

  • AKADEMIKA
  • CSR
  • EKONOMI
  • GALERI
  • HOT NEWS
  • INTERVIEW
  • KESEHATAN
  • KESRA
  • LINGKUNGAN
  • OPINION
  • PENDIDIKAN & IPTEK
  • SUSTAINABILITY
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • UKM CORNER

INFORMATION

  • About Us
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Contact

CONTACT

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini:

redaksi@kabarsdgs.com

 

No Result
View All Result
  • HOME
  • SUSTAINABILITY
  • CSR
  • UKM CORNER
  • AKADEMIKA
  • TRAVEL & LIFESTYLE
  • INTERVIEW
  • OPINION
  • GALERI

© 2020 Kabar SDGS - Hak cipta dilindungi oleh undang - undang.